![]() |
| Lini W Sidabalok, SPd, MM. (Foto: ET) |
Penulis: Lini W Sidabalok, SPd, MM
BATAMSIBER.COM | PARAPAT – Perubahan sikap anak yang mendadak menjadi pendiam sering kali membuat orang tua khawatir.
Anak yang sebelumnya ceria dan komunikatif tiba-tiba lebih memilih menghabiskan waktu di kamar, enggan bercerita, bahkan hanya menjawab seperlunya ketika diajak berbincang.
Fenomena tersebut kerap disalah artikan sebagai bentuk pembangkangan atau pengaruh buruk lingkungan. Padahal, menurut pemerhati pendidikan Lini W. Sidabalok, S.Pd., M.M., kondisi tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan remaja yang berlangsung secara alamiah, Sabtu (27/6/2026).
Mengacu pada laporan State of the World's Children 2021 dari UNICEF, masa remaja merupakan periode penting ketika otak mengalami proses "konstruksi ulang" atau brain remodeling.
Pada fase ini, kemampuan mengelola emosi, mengambil keputusan, hingga membangun hubungan sosial sedang mengalami penyesuaian besar.
Lini menjelaskan sedikitnya terdapat empat alasan ilmiah yang membuat remaja cenderung lebih banyak diam dibandingkan saat masih anak-anak.
Alasan pertama adalah perkembangan otak yang tidak berlangsung secara bersamaan. Berdasarkan penelitian National Institute of Mental Health Amerika Serikat, sistem limbik yang mengendalikan emosi berkembang lebih cepat dibandingkan korteks prefrontal yang berfungsi mengatur logika, perencanaan, dan pengendalian diri.
Psikolog perkembangan Dr. Laurence Steinberg mengibaratkan kondisi tersebut seperti "mengendarai mobil dengan mesin yang sangat kuat, tetapi remnya belum bekerja sempurna." Akibatnya, banyak remaja sebenarnya kesulitan mengungkapkan apa yang sedang mereka rasakan.
Jawaban singkat seperti "nggak tahu" atau memilih diam sering kali bukan karena tidak ingin terbuka, melainkan belum mampu mengolah emosinya menjadi kata-kata.
Faktor kedua berkaitan dengan meningkatnya sensitivitas terhadap penilaian sosial. Memasuki usia remaja, seseorang mulai membangun identitas dirinya sekaligus menjadi lebih peka terhadap bagaimana lingkungan memandang dirinya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Adolescence tahun 2020 menunjukkan aktivitas amigdala remaja meningkat ketika mereka merasa dihakimi. Karena itu, memilih diam menjadi mekanisme perlindungan diri, terutama jika sebelumnya mereka pernah merasa disalahkan, dikritik, atau tidak dipahami saat mencoba bercerita.
Selain itu, sikap pendiam juga merupakan bagian dari proses individuasi, yaitu tahap ketika remaja mulai membangun identitas dan kemandiriannya. Psikolog Erik Erikson menyebut fase ini sebagai Identity versus Role Confusion, di mana seseorang berusaha menemukan jati diri, nilai hidup, dan peran yang ingin dijalankan di masyarakat.
Dalam proses tersebut, kebutuhan untuk memiliki ruang pribadi menjadi sangat penting. Menyendiri di kamar atau mengurangi interaksi dengan keluarga tidak selalu berarti menolak kehadiran orang tua, tetapi bisa menjadi cara mereka mengolah berbagai pengalaman dan memahami dirinya sendiri.
Faktor berikutnya adalah kelelahan emosional akibat tingginya beban akademik dan tekanan media sosial. Data American Psychological Association menunjukkan Generasi Z melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
Kelelahan mental pada remaja sering kali tidak diungkapkan secara verbal. Sebaliknya, mereka memilih diam, menarik diri, atau menghabiskan waktu dengan gawai sebagai upaya mengembalikan keseimbangan emosional. Dalam kondisi ini, diam merupakan sinyal bahwa mereka sedang membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.
Peran Orang Tua Menjadi Penentu
Menurut Lini, komunikasi yang sehat menjadi kunci menjaga hubungan orang tua dan anak selama masa remaja.
Orang tua disarankan mengurangi pertanyaan yang bersifat menginterogasi seperti "Ada masalah apa?" dan menggantinya dengan percakapan ringan yang tidak menimbulkan tekanan.
Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif membangun rasa aman bagi anak untuk mulai bercerita. Selain itu, validasi emosi perlu didahulukan dibandingkan memberikan solusi secara cepat. Kalimat sederhana seperti "Sepertinya hari ini berat buat kamu" dapat membuat remaja merasa dipahami sebelum menerima masukan.
Orang tua juga perlu menunjukkan bahwa mereka selalu siap mendengarkan tanpa menghakimi. Kehadiran yang konsisten akan membuat anak memiliki tempat yang aman untuk kembali ketika membutuhkan dukungan.
Di sisi lain, remaja juga didorong belajar mengungkapkan kebutuhannya secara asertif, misalnya dengan mengatakan bahwa mereka membutuhkan waktu sendiri sebelum siap berbicara.
Menulis jurnal atau expressive writing juga dapat menjadi cara efektif membantu mengelola emosi. Penelitian Dr. James Pennebaker menunjukkan aktivitas menulis mampu membantu seseorang memahami pikirannya sehingga lebih mudah mengomunikasikan perasaannya.
Namun apabila sikap diam berlangsung sangat lama disertai penurunan prestasi, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga perubahan pola makan atau tidur yang signifikan, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan psikolog atau guru Bimbingan dan Konseling.
Lini menegaskan bahwa diamnya remaja bukanlah kegagalan pola asuh maupun bentuk pembangkangan semata. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan menuju kedewasaan.
"Tujuan komunikasi bukanlah memaksa anak berbicara, tetapi menciptakan rasa aman sehingga mereka memilih untuk berbicara ketika sudah siap," tutupnya. (ET)

