![]() |
| Foto: ist |
BATAMSIBER.COM | BATAM – Sebuah ruko tanpa papan nama di kawasan Top 100 Tembesi, Kota Batam, menjadi sorotan setelah diduga menjadi pusat aktivitas distribusi paket dalam skala besar yang beroperasi secara tertutup dan berlangsung pada jam-jam tidak lazim.
Pantauan di lapangan menunjukkan bangunan yang tampak biasa tersebut justru memiliki aktivitas bongkar muat barang yang cukup intens. Menariknya, kegiatan utama diduga berlangsung saat sebagian besar masyarakat tengah beristirahat, yakni mulai tengah malam hingga menjelang subuh.
Sedikitnya empat armada kendaraan terpantau keluar-masuk lokasi selama rentang waktu tersebut. Di antaranya sebuah mobil boks berwarna putih dan truk berwarna kuning yang bagian belakangnya tertutup rapat menggunakan terpal. Kendaraan-kendaraan itu diduga mengangkut paket dalam jumlah besar menuju titik distribusi tertentu di wilayah pesisir Batam.
Seorang sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa paket-paket tersebut diduga dikirim ke wilayah Tanjungpinang dan sejumlah daerah di Provinsi Riau melalui jalur yang tidak resmi.
“Barang-barang paket itu dikirim ke Tanjungpinang dan Riau secara ilegal,” ujar sumber tersebut, Senin (15/6/2026).
Informasi yang diperoleh menyebutkan, kendaraan pengangkut dari kawasan Tembesi diduga bergerak menuju wilayah Dapur 6, Sembulang, yang berada di sekitar kawasan Jembatan Barelang. Lokasi tersebut disebut-sebut menjadi salah satu titik keberangkatan barang melalui jalur laut nonresmi atau yang kerap disebut sebagai pelabuhan tikus.
Dari lokasi tersebut, paket diduga dipindahkan ke kapal cepat untuk kemudian dikirim menuju Tanjungpinang dan wilayah daratan Riau tanpa melalui prosedur manifest dan pengawasan sebagaimana ketentuan yang berlaku.
Jika dugaan tersebut terbukti benar, praktik tersebut berpotensi menimbulkan kerugian negara sekaligus membuka celah terhadap peredaran barang yang tidak terawasi.
Hingga kini, identitas pihak yang mengelola aktivitas di ruko tersebut masih menjadi tanda tanya. Tidak adanya identitas perusahaan yang terpampang di lokasi semakin memunculkan spekulasi mengenai legalitas operasional yang dijalankan.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada instansi terkait, termasuk Bea Cukai Batam, masih terus dilakukan guna memperoleh penjelasan resmi mengenai dugaan aktivitas distribusi paket ilegal tersebut.
Kasus ini pun menimbulkan pertanyaan besar: siapa pihak yang berada di balik operasi yang diduga telah berlangsung cukup lama tersebut, dan bagaimana aktivitas itu dapat berjalan tanpa terdeteksi oleh aparat berwenang. (Red)

