![]() |
| Kondisi rumah warga yang rata dengan tanah akibat dampak cut and fill. (Foto: BT) |
BATAMSIBER.COM | BATAM – Peristiwa robohnya dua unit rumah di Perumahan Bukit Indah Piayu (BIP), Kecamatan Sei Beduk, Batam, menjadi perhatian publik. Selain mengakibatkan kerusakan parah pada bangunan, insiden tersebut juga memaksa sejumlah warga mengungsi karena khawatir terjadi longsor susulan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi, total 11 rumah dilaporkan mengalami kerusakan. Dua rumah di antaranya roboh hingga rata dengan tanah, sementara sembilan rumah lainnya mengalami retakan pada dinding, lantai, hingga struktur bangunan.
Warga menduga kerusakan tersebut berkaitan dengan aktivitas proyek cut and fill yang berada tepat di belakang kawasan perumahan. Meski demikian, penyebab pasti masih menunggu hasil penyelidikan dari instansi berwenang.
"Kondisi ini sudah terjadi sekitar dua minggu. Total ada 11 rumah yang rusak, dua di antaranya sudah roboh. Salah satunya rumah Pak RT. Demi keselamatan, mereka sekarang mengungsi," ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, pihak pengembang dikabarkan telah menyampaikan komitmen untuk membangun kembali rumah yang roboh. Namun, warga berharap persoalan tidak berhenti pada pemberian ganti rugi semata.
"Kalau aktivitas pengerukan tetap berjalan, kami khawatir kerusakan akan terus bertambah. Yang dibutuhkan bukan hanya membangun ulang rumah, tetapi memastikan lingkungan kami benar-benar aman," katanya.
Pantauan di lokasi menunjukkan adanya retakan pada badan jalan kompleks serta sejumlah bangunan yang diduga terus mengalami pergeseran. Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih meninggalkan rumah mereka untuk sementara waktu.
Peristiwa ini juga memunculkan pertanyaan mengenai aspek keselamatan dan perizinan proyek yang berada di sekitar kawasan permukiman. Warga berharap pemerintah bersama instansi teknis segera melakukan investigasi menyeluruh, termasuk menelusuri kelengkapan dokumen lingkungan serta kepatuhan terhadap standar teknis dalam pelaksanaan proyek.
Selain itu, masyarakat meminta adanya kajian independen guna memastikan penyebab kerusakan bangunan dan mencegah dampak yang lebih luas.
Hingga berita ini diterbitkan, wartawan masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak pengembang perumahan, pelaksana proyek cut and fill, serta instansi pemerintah terkait mengenai penyebab kejadian, status perizinan proyek, dan langkah penanganan yang akan dilakukan. (*)

